Saturday, March 06, 2010

Ujung Genteng and the Groupies Tripper

Ini bukan tulisan gw tapi tulisan mbak ifah seorang wartawan yang ikut dalam trip kali ini, rencananya gw mau bikin tulisan sendiri sih.. tapi belum sempet, haha... terlalu banyak memang yg harus diceritakan. pastinya cerita dibawah ini cukup mewakili lah, yang nulis wartawati gituh.. ^^ aah.. pokoknya perjalanan dan wisata ke ujung genteng minggu lalu buat gw tak akan terlupakanlah, banyak sekali hal-hal baru yang gw rasain, belum lagi pengalaman di gua itu... ooww, terutama para travelers nya... 3 hari merubah mereka yg tadinya orang asing buat gw menjadi teman baik.

o ya, atas ide pak ketu.. kita menamakan diri sebagai the Groupies Tripper.. entah maksudnya apa... ;D

so... I can't wait for the next trip!! hopefully there will be any...

-------------------------
Hm… berkali-kali kalender di meja kantor gue perhatiin. Tanggal 26 Februari 2010 (jumat) warnanya merah! Wah, kesempatan buat jalan-jalan nih, secara…long weekend bow. Gue pengen banget ke pantai, tapi gue ragu… karena ujan lagi narsis-narsisnya mengguyur seantero nusantara (ceile…). Bingunglah gue… eh, tiba-tiba Mila nge-YM gue, dia ngajakin ke Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat, bareng2 ma komunitas CS.

Kebetulan cuy… secara gue belom pernah ke Ujung Genteng (UG). Tapi, walopun belom pernah, gue sering banget baca postingan orang-orang yang kesana. Sepertinya sih tempatnya asik, terutama menu utamanya, ngeliat penyu bertelur…! Wah… musti ikut nih, apalagi backpackeran… pasti murmer (murah meriah) dunk… So… berangkatttt!!

Menurut itinerary, waktu meeting point adalah pukul 07.00 WIB di pintu masuk bus antar kota, Terminal Kampung Rambutan. Masuk ke dalem terminal antar kota bayar Rp 500 perak*beuh..*. Berhubung ada yang ngaret, akhirnya kita baru kumpul semua sekitar jam 07.30 WIB. Ada 13 orang yang ikut trip, cewek 7 orang (gue, Mila, Pipit, Widy, Melita, Ivy, Oliv) and cowok 6 orang (Adi (pak ketu), Mirja, Yudi, Unggul, Hery) dan Danang (aseli warga Semarang. Untuk Danang meeting pointnya di Lembur Situ).

Dari Terminal Kampung Rambutan kami naek bis ekonomi jurusan Sukabumi, ongkosnya Rp 16rb*beuh..*. Berhubung bis ekonomi nan murmer dan non AC ditambah lagi dengan kondisi jalanan yang macet, jadilah itu bis penuh sesak dengan penumpang yang keringetan, tukang jualan dan tukang ngamen berbagai versi (ada yang pake karaoke, gitar, kecrekan) ngamen di kupingnya mila :D. Mila duduk di pinggir sih :D.

Akhirnya sekitar pukul 12.00 WIB kami tiba di Terminal Sudirman, Sukabumi. Dari situ kami patungan carter angkot warna ijo jurusan Terminal Lembur Situ, masing-masing bayar Rp 5ribu*beuh..*. Dua puluh menit kemudian kami sampai di Terminal Lembur Situ dengan keadaan perut yang keroncongannn… Kami memilih makan di Resto Padang karena tersedianya toilet, jd bisa cuci muka n beserrrr… hihihi . Nah, untuk biaya makannya beda-beda, tergantung yang di makan.

Sekitar pukul 13.30 WIB, perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan angkot elf jurusan Cikangkung. Sebenarnya sih ada elf yang langsung menuju UG dari Terminal Lembur Situ, tapi karena kami mo stay di rumah granny-nya Adi, makanya kami naek yang jurusan Cikangkung. Perkiraan waktu 4 jam sampe di Cikangkung! weeekkksss… pegel2 dah tu bokong n punggung :p. Ongkos elf ke Cikangkung per orang Rp 30rb *beuh..*.

Perjalanan kami ke Cikangkung ditemani dengan derasnya hujan… Sempet khawatir juga sih, takutnya pas sampe UG ujan mulu, bisa2 ga jadi mantai nehhh… Tapi Alhamdulillah, setelah dua jam perjalanan hujan berganti rintik2. Ketika elf yang kami tumpangi melewati perkebunan karet tiba2 terdengar bunyi ‘dusss…’ ban mobil kempesssss… jiiiaaahhh… Sambil menunggu pak supir mengganti ban mobil, narsis dulu ahhh… putu2 dengan gaya acak kadul… (teuteup) hehehe…



Perkiraan bakal tiba di UG sekitar pukul 18.00 WIB sirna setelah gue ngeliat jam di tangan menunjukkan pukul 18.30 WIB. Selidik punya selidik, keterlambatan angkot dikarenakan adanya penumpang langganan pak supir yang minta dianterin ke tempat yang letaknya bukan di jalur yang seharusnya. Jadi kami dibawa keliling, hicks...

Tiba-tiba pak supir yang bernama Pak Acong ini menawarkan kami untuk tinggal di rumahnya yang memang berlokasi di UG, dekat dengan pantai Rawabuaya. Setelah berunding, akhirnya kami memutuskan untuk menerima tawaran Pak Acong.

Setengah jam kemudian kami tiba di rumah Pak Acong. Di rumahnya kami numpang mandi & sholat. Di rumahnya pula Pak Acong kembali menawarkan jasanya pada kami untuk mengantar kami menggunakan angkotnya (elf) ke tempat2 yang hendak kami tuju, dengan imbalan Rp 650rb untuk satu hari. Gile… mahal yakkk. Entah karena pasrah atau ga ada pilihan lain, kami setuju dengan tawaran itu. Patungan untuk elf masing2 Rp 50rb*beuh..*. O ya, no HP-nya Pak Acong 087820759063.

Setelah mandi, gue dapet tugas nemenin Mila beli ikan laut. Malam itu kami ingin bakar ikan alias BBQ di pinggir pantai. Gue & Mila ke tempat penjual ikan by ojek (tukang ojeknya keneknya Pak Acong juga :p). Kami beli ikan di rumah salah seorang nelayan & di pasar ikan. Hasilnya, satu ikan gelang kambing (3 kg) dan dua ekor ikan kacang-kacang (3,6 kg) hihihi… nama ikan2nya ko lucu yak…^^. Harga ikan perkg Rp 25rb. Tapi kami dapet diskon jadi harga yang harus kami bayar untuk beli ikan totalnya Rp 140rb. Patungan beli ikan, nasi plus bumbu2 masing2 Rp 20rb *beuh..*.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, ikan baru terbeli. Perut yang keroncongan sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Akhirnya kami memutuskan untuk memakai jasa Pak Hayun, seorang pemilik warung makan (sekaligus pengelola Losmen Cowboy), untuk memasak ikan2 yang kami beli. (FYI: gue iseng nanya tarif Losmen Cowboy, untuk 1 kamar=Rp 300rb/hari, muat 5 orang). No. HP Pak Hayun 087720868443.

Ikan kacang-kacang digoreng dengan bumbu saus tiram, sementara Ikan gelang kambing dibakar. Patungan untuk bayar jasa Pak Hayung plus bayar ojek yang nganterin gue & Mila beli ikan, masing2 nambah Rp 5rb *beuh..*.

Sambil menunggu ikan matang, kami mendirikan tenda di pinggir pantai Rawabuaya karena malam itu kami memang ingin menginap di pinggir pantai. O ya, tendanya kami sewa di Jakarta, untuk dua tenda harga sewanya Rp 150rb. Patungan masing2 Rp 12rb *beuh..*. Awalnya, kami ingin menginap di pantai Panarikan. Tetapi setelah mendengar penjelasan dari Pak Acong bahwa di pantai Panarikan masih terdapat binatang buas, kami mengurungkan niat untuk mendirikan tenda di sana.

Setelah makan malam, saatnya merebahkan tubuh. Sleeping bag pun gelar di hamparan pasir putih. Malam itu bulan terlihat bulat dan langit berawan, kami tidur ditemani alunan deburan ombak dan suara jangkrik. Sesekali terdengar suara lolongan anjing liar dan deru sepeda motor memecah keheningan malam, ceileee… Sekitar jam 4.30 pagi gue terbangun dan melihat awan yang semalam sempat menggelayuti langit sirna, berganti dengan langit yang penuh dengan bintang2, so beautiful...

Usai shalat subuh, kami dikejutkan dengan rintik-rintik hujan. Tanpa dikomando, yang masih tidur langsung bangun semua dan bergegas membereskan sleeping bag, tenda dan barang-barang lainnya. Kami berteduh di warung makan Pak Hayung sekalian sarapan nasi goreng plus sisa ikan bakar semalam. Keinginan untuk melihat sunrise gagal dehhhh…

Untung hujannya cepat reda. Sambil menunggu Pak Acong tiba, gue, Mila, Pipit, Danang, Melita & Heri, menikmati pantai Rawabuaya dengan bernarsis ria (putu2 cuyyy…:D), nggak peduli kalo pakaian kami sudah basah kuyup diterjang ombak yang ketinggiannya mencapai 1 m… (teuteup eksis bow ^^)


Sekitar Pkl 08.00 WIB, Pak Acong baru tiba, ngaret 1 jam! Bergegas kami masuk ke dalam elf dan langsung cabut menuju Pantai Panarikan. Pantai Panarikan letaknya bersebelahan dengan lokasi konservasi penyu di Pantai Pangumbahan. Untuk mencapai Panarikan, kami harus berjalan kaki menyusuri padang ilalang, pohon2 perdu, bakau dan tanaman pantai lainnya. Makanya elf di parkir di kawasan konservasi.

Setelah 20 menit berjalan kaki, kami tiba di Panarikan. Melihat kondisi pantai, dalam hati gue bersyukur tadi malam tidak mendirikan tenda di sini. Pantai panarikan jauh dari mana2, letaknya nyempil, menyendiri… tapi pantai ini memiliki hamparan pasir putih yang alami dan luas membentang… deburan ombaknya tinggi dan menghempas keras (cocok untuk penggila surfing). Tanpa di aba2, narsis pun dimulai (putu2 again ^^).

O ya, Pantai Panarikan juga merupakan muara dari Danau Lestari yang letaknya bersebelahan dengan Panarikan. Di hutan2 kecil di pinggir danau ini masih terdapat banyak binatang buas seperti ular dan buaya muara, hiiii… seyemmm…




Puas putu2, kami segera meninggalkan Panarikan untuk menyambangi Curug Cikaso. Setelah 10 menit berkendara, tiba2 Pak Acong memarkirkan mobil disebuah bengkel untuk menambal ban mobil yang bocor kemaren :p. Udah datengnya ngaret, waktu kami terbuang lebih dari 30 menit untuk nungguin ban yang ditambal (bête bête bête ahhh…). Untuk mengisi waktu, putu2 againnnn…

Sekitar pukul 11.30 WIB, kami sampai di Curug Cikaso. Untuk menuju curug (air terjun), kami harus menggunakan perahu kayu yang kami sebut perahu vietkong (sumpehh… mirip banget ma perahunya orang2 vietkong). Biaya angkut satu perahu Rp 80rb dengan kapasitas max. 10 orang. Nah, loh kami kan ber-13. Untungnya waktu itu ada satu rombongan yang pengen nyebrang juga dan kekurangan orang. Akhirnya kami gabung sama mereka. Patungan ojek perahu masing2 Rp 10rb *beuh..*.


Setibanya di pintu masuk curug, kami harus bayar uang masuk sebesar Rp 2rb per orang *beuh..*. Curug Cikaso terdiri dari 3 air terjun. Dua curug besar dan satu curug kecil. Karena bulan ini masih masuk musim hujan, air Curug Cikaso sangat deras. Kecuali Mirja & Oliv, kami semua nyemplung ke air yang kedalamannya antara 2 – 20 m. Tetapi, arus atas air yang begitu deras ditambah arus bawah air yang kencang, memaksa gue untuk menyerah berenang ke arah air terjun :p.


O ya… ada insiden kecil terjadi di curug ini. Salah seorang dari kami hampir tenggelam karena tidak bisa berenang (sory ya cuy… gue ga nyebut nama lho… piss :D). Untunglah di sana ada live guard yang emang dari tadi udah ngetemin kami hihihi… (udah punya feeling kali ya tu orang). So, buat yang nggak bisa renang, disarankan untuk berenang di tepian aja, deket2 karang, bahaya cuy… ;)

Puas berenang & putu2, kami beranjak meninggalkan curug untuk makan siang di daerah Surade, saat itu waktu menunjukkan pukul 13.30 WIB. Biaya makan berbeda-beda tergantung apa yang dimakan.

Perjalanan berikutnya ke Goa Gunung Sungging. Goa yang terletak di sebuah desa di kaki Gunung Sungging ini kami tempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit dengan menyusuri pematang sawah. Untuk menjelajah keindahan goa, kami ditemani oleh seorang juru kunci (kuncen) bernama Pak Nadmudin.

Menurut keterangan Pak Kuncen, goa tersebut memiliki cerita legenda. Katanya, goa tersebut merupakan tempat persembunyian Prabu Siliwangi dari kejaran anaknya (Pangerang Kian Santang) yang terus meminta agar ayahnya memeluk ajaran islam. Kabarnya, goa tersebut tembus hingga ke Cirebon, Banten dan Penjalu (Tasikmalaya). Namun hingga kini hal tersebut tidak bisa dibuktikan kebenarannya.


Masih menurut Pak Kuncen, luas lokasi goa mencapai 6 hektar dan goa tersebut dibuka untuk umum sejak tahun 1982. Untuk menuju ke dalam goa, kami harus melewati sebuah pintu masuk yang kecil dan sempit. Ketinggian di dalam goa pun tidak rata, terkadang kami harus jalan merunduk. Jalanan di dalam goa licin dan becek, makanya sempat terdengar suara berdebam…buuuggg… (Adi kepleset huehuehue… piss man…:D).

Stalagtit di goa tidak mengeluarkan air, begitu pula dengan stalagmitnya. Namun demikian, batu2 di goa sangat lembab. Penghuni di dalam goa bukan hanya kelelawar tapi juga jin! Ya iyalah, goa yang penuh aura mistis ini juga menjadi tempat pesugihan sih… Dan yang bikin gue deg-degan adalah ketika Pak Kuncen mendapat bisikan bahwa tiga orang diantara kami (gue, Pipit & Widi) harus merasakan misteri Batu Putar. Menurut Pak Kuncen, semua permohonan orang2 yang terpilih untuk melewati batu putar akan terkabul! Jiahhhh… bukannya kalo memohon itu cuma sama Tuhan yak???

Emang terasa banget balutan mistik di goa ini. Contohnya aja bau bunga-bungaan yang selalu mengikuti kami, adanya tempat kemenyan di salah satu sudut goa, stalagtit berbentuk buaya (katanya itu jelmaan buaya putih kendaraannya Prabu Siliwangi), ada juga stalagmit berbentuk pantat gajah (katanya juga jelmaan kendaraannya Prabu Siliwangi), trus ada Tiang Ukir (katanya kalo memeluk Tiang Ukir maka tenaga Anda akan bertambah kuat).

Dan yang terakhir saat gue, Pipit & Widi berhasil melewati dua celah sempit Batu Putar (secara logika, sangat tidak mungkin buat kami melewati celah sempit itu karena memang celahnya sangat sempit. “It’s magic”, kata Widi). Tapi jujur, ketika melewati Batu Putar, gue merasa de ja vu :p. Usai menjajal Batu Putar, kami merasa harus menghentikan perjalanan menyusuri goa karena perasaan yang semakin tidak nyaman dan tidak pengen musyrik!


Sampai di luar goa, kami patungan membayar jasa Pak Kuncen masing2 sebesar Rp 14rb *beuh..*. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB saat kami meninggalkan Goa Gunung Sungging. Sore itu seharusnya kami musti sampai di lokasi konservasi penyu pada pukul 17.00 WIB untuk melihat pelepasan tukik, tapi ga keburu… :p Kami tiba di Pantai Ujung Genteng sekitar pukul 18.00 WIB. Akhirnya, kami menghabiskan sore itu dengan duduk2 di pinggir pantai sambil menikmati sunset… very awesome view ^^.



Puas putu2 kami mencari warung makan. Biaya makan malam, tergantung apa yang dimakan. Setelah itu kami kembali ke rumah Pak Acong untuk mandi, sholat dan istirahat sejenak. Malam itu kami memutuskan untuk nginep di rumah Pak Acong dan pada tengah malamnya kami berencana pergi ke Pantai Pengumbahan untuk melihat penyu bertelur. Tetapi karena rasa lelah setelah seharian jalan-jalan ditambah kantuk yang mendera, cuma gue & Pipit aja yang akhirnya pergi ke Pantai Pangumbahan, lokasi Konservasi Penyu Hijau.

Kami berdua berangkat dari rumah Pak Acong dengan ojek motor. Biaya ojek motor pulang pergi Rp 30rb *beuh..*. Sebenarnya malam itu kemungkinan besar kami bakalan gagal melihat penyu bertelur. Pasalnya, bulan Februari bukan musimnya penyu untuk bertelur. Tapi tak apa, seandainya tidak melihat penyu bertelurpun gue & Pipit sudah merasa puas.

Kami tiba di kawasan konservasi sekitar pukul 23.30 WIB. Di tempat itu ramai berkumpul wisatawan lokal, mungkin sekitar 80-100 orang. Pada pukul 01.00 WIB, seorang penjaga memberikan komando agar kami mengikutinya masuk ke kawasan pantai karena ada seekor penyu yang sedang membuat lubang untuk bertelur. Alhamdulillah… muka gue & Pipit langsung cerah, akhirnya kami bisa melihat penyu bertelur, yipiii… Setibanya di bibir pantai, kami kembali diminta untuk duduk menunggu aba-aba dari penjaga yang lain (yang sedang menunggu si penyu membuat lubang di dekat semak-semak). Kebetulan malam itu bulan purnama. Sinarnya yang terang menyinari sepanjang Pantai Pangumbahan, awesome…

Setelah 15 menit menunggu, gue melihat aba-aba berupa sinar dari lampu senter berkedip2 yang menandakan bahwa wisatawan boleh mendekat karena penyunya sudah bertelur. Untung saja, Pak Penjaga mengenali gue & Pipit (dia mengenali kami karena siang tadi kami mampir ke kawasan konservasi sebelum menuju Pantai Panarikan). Makanya gue dapat kesempatan pertama (paling depan), ngambil putu si penyu yang sedang bertelur tanpa perlu antri hihihi... tengkyu Pak Penjaga ^^. Sayang, kamera Pipit batrenya abis, akhirnya cuma kamera guelah yang bisa mengabadikan sang penyu ;).


Menurut Pak Penjaga (sory gue lupa namanya siapa :D), musim bertelur penyu terjadi pada bulan Agustus – Januari. Pada bulan2 itu, dalam satu pos bisa terdapat 30 – 40 ekor penyu yang bertelur (kawasan itu memiliki 6 pos). Sekali bertelur, seekor penyu bisa menghasilkan 120-130 telur dan mereka membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk proses bertelur (mulai dari naik ke daratan, mencari lokasi, membuat lubang, bertelur, menutup lubang, sampai kembali lagi ke laut).

Tadinya gue & Pipit mau menunggu sampai si Penyu kembali ke laut. Tetapi, begitu terlihat ada badai di tengah2 laut, ombak yang mulai membesar, angin yang semakin kencang dan gumpalan awan hitam mulai menutupi bulan, gue & Pipit memutuskan untuk segera meninggalkan kawasan konservasi, kami khawatir kehujanan sebelum tiba di rumah Pak Acong. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 02.40 WIB. Benar saja, begitu menginjakkan kaki di rumah Pak Acong, hujan turun dengan derasnya. Alhamdulillah… kami tidak kehujanan di jalan.

Usai sholat subuh saatnya berkemas2. Kami kembali mencarter elf Pak Acong dengan tujuan langsung ke Terminal Sudirman, Sukabumi. Masing2 bayar ongkos sebesar Rp 38rb *beuh..*. Ongkos kali ini lebih murah karena Pak Acong sekalian ngangkut penumpang di sepanjang perjalanan. Setelah dua jam perjalanan tiba2 ban mobil Pak Acong kempes lagi, jiahhhh… cape d…

Sekitar pukul 11.30 WIB kami tiba di Sukabumi. Perut yang dari tadi keroncongan langsung diisi bakso dan es campur. Biaya yang dikeluarkan untuk makan siang (sekaligus sarapan) ini, tergantung apa yang dipesan. Setelah menumpang sholat disebuah mesjid di dekat terminal, kami meninggalkan Sukabumi dengan bus ekonomi jurusan Kampung Rambutan. Untuk ongkos bus masing2 mengeluarkan Rp 16rb *beuh..*, ditambah bayar peron masing2 Rp 500 perak *beuh..*.


Setelah terjebak di dalam bus yang penuh sesak selama kurang lebih 5 jam, akhirnya kami tiba di kampung rambutan sekitar pukul 17.30 WIB. Welcome back…

Perjalanan gue kali ini benar2 menyenangkan. Selain dapet temen2 baru, gue juga mengalami kejadian2 seru dan menikmati pemandangan2 yang indah… mudah2n next trip akan sama menyenangkannya dengan yang ini. Tengkyu folks… CS’er jangan kapok ngajak gue yakkk :D


*Sory gaya bahasanya acak kadul… secara yang baca juga gayanya acak kadul semua huehuehue…:D

Salam,
Ifa Abdoel

9 comments:

  1. artikel bagus..
    keep posting yups..
    gw dlu jg pernah k ujung genteng melawati perjalanan yang berliku2 tp semuanya terbayar pada saat berada dsana...
    pemandangan ujung genteng yg indah...

    ReplyDelete
  2. sewa jasa masak pak hayun berapa?
    itunganny perKG????

    ReplyDelete
  3. wow, bener" liburan yang menarik. jauh tp terbayarkan sama pemandangan yang indah disana.

    ReplyDelete
  4. wah boleh nih jadi next trip saya..
    mantap..

    ReplyDelete
  5. gw juga uda kesana dan emang MANTAP BANGET !

    ReplyDelete
  6. artikel yang unik
    & pemandangan yag indah...

    ReplyDelete


  7. salam kenal,..
    pantai ujung genteng memang wajib untuk anda kunjungi.. dan bila anda mencari hotel atau penginapan.. hubungi kami
    kami menawarkan harga untuk menginap di hotel kami harga dari mulai 600rb 2 kamar tidur, livingroom, branda, wash room, dan breakfast.., kapasitas8 orang.
    untuk info lebih lanjut silahkan kunjungi

    http://www.turtlebeachesresort.com
    atau hub 085860555177

    thanks

    ReplyDelete

komennya donk, oom-tante?