Sunday, December 28, 2008

Hebron, Ali, and Palestine

Assalamualaikum...

Oke, dikarenakan request seorang teman maka saya akan sedikit berbagi cerita. Dengan izin Allah, saya berhasil menemukan orang Palestine yang sedang online lewat Skype. Ya saya memang ingin tahu lebih banyak keadaan yang terjadi disana sekarang ini. Bukan saja karena ini bulannya Palestine buat Indonesia tetapi mungkin keinginan ini bertambah karena saya baru saja selesai membaca sebuah novel The Last Secret of the Temple tentang jejak perebutan tanah suci tiga agama. Sebenarnya saya meng-add nya kemarin malam dan saya baru online lagi malam ini. Dia telah meng-approve add request saya dan saya lihat dia dalam SkypeMe! mode. It means he allows everyone else on Skype know that he’s available and interested in talking or chatting. I love skype. Malahan sebelum saya sempat menyapanya, dia menyapa saya terlebih dahulu.

//hihi, kenapa bahasa blog gw jadi formal begini ya? ah.. lanjut…

Namanya Ali. Saya lupa menanyakan nama panjangnya. Ali bin Abi Thalib kah? Sepertinya bukan. ;P I’m so lucky that he is an English teacher. So he speaks English fluently and he can also understand my words or at least what I meant to say. Hehe. Umurnya 25 tahun dan belum menikah. Apakah itu penting? Entahlah, saya cukup heran saja. Saya pikir orang Palestine kan sangat membutuh sumber daya manusia yang besar untuk meneruskan generasi dan terus berjuang melawan Israel. Jadi, dalam pikiran saya mereka kebayakan menikah muda dan untuk seorang pria berumur 25 tahun rasanya aneh buat saya apabila belum menikah. Haha, ternyata saya salah, kata Ali di usia 25 tahun di Palestine wajar apabila belum menikah. Ali ini selain seorang guru bahasa Inggris di sebuah SMP dan SMA disana juga ternyata ketua club pramuka di kotanya, Hebron.

Ali dan murid-muridnya para anggota Pramuka kota Hebron saat sedang melakukan kegiatan kepramukaan, mungkin semacam Jambore Pramuka di Indonesia.


Bicara mengenai kota Hebron, it is the second holiest city for Judaism after Jerussalem. Dari apa yang Ali katakan ke saya, dalam bahasa Arab Hebron disebut Al-Khalil yang berarti teman. Ini ada kaitannya dengan Nabi Ibrahim AS karena Ibrahim dianggap teman Allah, dalam arti Allah memilih Ibrahim sebagai temanNya yaitu sebagai nabi. Sama seperti halnya Jerusalem, Hebron juga dianggap sebagai kota suci untuk tiga agama Abrahamik: Islam, Yahudi, dan Kristen. Bisa dibilang Hebron adalah satu kota dengan dua negara: Palestine dan Israel. Orang Yahudi menanggap kota ini suci karena di Hebron terdapat Gua Patriarchs yang diyakini tempat dimana Nabi Ibrahim AS, istrinya Sarah, Ishak, Ribkah, Yakub, dan Lea dimakamkan. Sepanjang sejarah di gua ini telah dibangun gereja, sinagoga, dan masjid. Aula Ishak kini menjadi Masjid Ibrahimi, nah di masjid ini lah peristiwa yang Ali alami 14 tahun lalu dia ceritakan ke saya. Sementara itu Aula Abraham dan Aula Yakub berfungsi sebagai sinagoga Yahudi. Umat Kriten sendiri menganggap Hebron kota suci karena mereka percaya sepupu Maria, Elizabeth, dulunya tinggal di kota ini.

Seperti yang mungkin kebayakan sudah pada tahu, pendudukan Israel di tanah Palestine bermula pada tahun 1948. Ratusan desa dan kota di Palestine dihancurkan termasuk Hebron dan ribuan orang saat itu meninggal akibat serangan Israel. Lalu terjadi lagi serangan yang cukup besar di tahun 1967 saat terjadi perang 6 hari Arab-Israel, banyak anak-anak dan wanita terbunuh, lagi ratusan orangpun meninggal.

Mostly Ali talked about what happened 14 years ago in Hebron. Di tanggal 15 Ramadhan 1994. Dia menceritakan bagaimana waktu itu seorang Yahudi bernama Dr. Barokh Goldishtain membunuh 30 orang yang sedang sholat Shubuh di Masjib Abraham/Ibrahim saat sang imam membacakan surah Sajdah dengan tembakan. 17 jamaah lainnya terluka. Barokh Goldishtain sendiri adalah seorang dokter untuk militer Israel dan lama tinggal di New York dan sekolah kedokteran di sana. Dia begitu membenci orang-orang Palestina. Akhirnya Barokh Godishtain pun terbunuh di dalam masjid setelah jamaah yang tidak terkena tembakan melawan. Saat itu Ali adalah salah satu jamaah dalam Masjid Ibrahim yang selamat, umurnya baru 11 tahun waktu itu. Dia tertembak di bagian kakinya tetapi Alhamdulillah itu tidak membuatnya cacat. Dengan matanya sendiri dia melihat ketiga sepupunya mati syahid tertembak peluru Dr. Barokh Goldishtain atau orang barat menyebutnya Barukh Goldstein. Ali bilang dia tidak sedih sama sekali malah dia justru gembira karena ketiga sepupunya kini ada di surga. Ketika orang berlarian keluar masjid malahan tentara Israel lainnya menembaki. Lebih parahnya lagi saat ambulans datang dan hendak membawa orang-orang yang terluka malah dihadang tentara Israel, bahkan Al-Ahli Hospital pun ikut diserang, puluhan orang pun meninggal. Pun ketika para korban hendak dikubur serangan terjadi lagi dan menewaskan para pelayat.

Sejak kejadian di Masjid Ibrahim itulah tentara Israel makin semena-mena dan menduduki kota Hebron. Kemudian Ali bercerita tentang dirinya sebagai seorang guru dan murid-muridnya. Sering murid-muridnya tidak bisa datang ke sekolah karena dihadang oleh tentara Israel di jalan. Tanpa alasan yang jelas mereka melarang murid-muridnya untuk ke sekolah tapi mereka pantang tidak belajar. Pada akhirnya mereka belajar di jalanan di depan para tentara Israel itu. Para murid-muridnya memiliki semangat tinggi untuk terus belajar dan tidak ada ketakutan sama sekali terhadap para tentara Isrel tersebut. Ali memberitahu saya video yang ada di Youtube yang menggambarkan bagaimana para murid-murid di Hebron dihadang dan tidak dibolehkan ke sekolah.


Saya juga memberitahu Ali tentang bulan Palestine yang ada di Indonesia dan tentang pengumpulan dana 1 miliar untuk keperluan pendidikan di sana. He said to me that Palestinians do appreciate Muslim Indonesia and appreciate our honest feelings. Walaupun yang saya tahu standar pendidikan di Palestine itu lebih tinggi daripada di Indonesia jadi mungkin bantuan itu tidak seberapa. Sarjana di Palestine memang jauh lebih tinggi presentasenya secara keseluruhan dibanding presentase sarjana di Indonesia. Bantuan sekecil apapun akan sangat berarti untuk rakyat Palestine karena paling tidak bisa membuat mereka tersenyum bahagia mengetahui banyak saudara Muslim di luar sana peduli terhadap perjuangan mereka.

Yang menarik saya menemukan sebuah video tentang penyerang di Masjid Ibrahim 14 tahun lalu oleh Dr. Barokh Goldishtain tapi dalam bentuk video game. Ternyata orang Syiriah yang membuatnya, nama game tersebut Under Siege. Buat para gamer sejati terutama untuk game-game bertema perang pasti tahun bahwa orang-orang barat dan Israel selalu menjadi pahlawan didalamnya dan selalu orang-orang Arab yang menjadi musuhnya. Tetapi beda dengan game yang dibuat orang Muslim ini, kali ini orang-orang Arab lah(orang Palestine) pahlawannya yang berusaha melawan kesewenangan pendudukan tanah mereka oleh Israel. Hoho. Jadi pengen main gamenya. Ini ada video dari Youtube tentang gambaran penyerangan Masjid Ibrahim oleh Baruch Goldstein.



Terakhir Ali menyuruh saya menonton video seorang anak perempuan kecil yang sungguh membuat saya terharu.

Palestine , My name is Palestine
I wrote my name at all fields
with a unique font greater than all titles
The letters of my name, the letters of my name,
live inside me, feed me, spread the soul and fire inside my body
The mountains of the river, knows me well
I spent all my power and ask my nation help
And Saladin was calling, calling inside me

And my Arabic origin is asking me for freedom and revenge
And those flags which were folded at Hatiin (battle)
And the caller of Al Aqsa Masjid is calling for help
And thousands of prisoners are calling for help
Calling the greater nation and calling for millions
Go to Al Quds(Jerusalem),
to a war where the oppressed are, to stop the injustice of the Zionism, and raise the flag of Palestine
My words will remain the same
Palestine, Palestine, Palestine


Akhirnya perbincangan saya dengan Ali harus disudahi. Di Palestine sudah memasuki Magrib saat itu dan Ali akan segera pergi ke masjid. Di akhir perbincangan kami, dia menitipkan salam untuk semua umat Muslim di Indonesia dan ia sangat menghargai terhadap apa yang sudah diusahakan untuk membantu rakyat Palestine. Terakhir, Ali bergurau, katanya salam untuk wanita Muslim di Indonesia mungkin suatu saat dia akan menikahi wanita Muslim Indonesia. Hehe, ternyata laki-laki dimana-mana sama saja. Salam yang aneh tapi saya tahu dia memang suka bergurau, bahkan dia menjadi salah satu guru favorite karena hobinya bergurau. Sepanjang obrolan saya dengan Ali pun sesekali ia melucu tentang tentara Israel. Saya harap sih ini bukan yang terakhir kalinya saya berbincang dengan Ali karena sepertinya dia cukup sering online di akhir pekan.

Yah itu sedikit apa yang saya dapat tadi malam. Maaf baru bisa posting sekarang tadi pagi sampai sore ini saya pergi dan maaf juga kalau ada kata-kata yang sulit dimengerti, maklum saya ini payah dalam urusan merangkai kata. Oh ya, besok tanggal 29 Desember 2008 ada aksi solidaritas pelajar dan mahasiswa untuk Palestina. Kumpulnya jam 7 dibundaran Psikologi UI. Yang mau dan berminat ikut, dateng aja!!!

10 comments:

  1. Subhanallah.. begitu tegar dan kuatnya mereka. bergembira karena ketiga sepupunya mendapat kesempatan untuk syahid.. subhanallah..

    betapa mereka memiliki semangat belajar yg tinggi..

    betapa zionis itu begitu kejam merusak kebahagiaan dan kebebasan mereka..

    Ya Allah, eratkanlah ikatan antara kami dan saudara2 kami di manapun mereka berada..

    ayo wujudkan dana pendidikan 1 milyar utk anak2 palestina!

    ReplyDelete
  2. akhirnya requestnya dikabulkan. :D

    pengen banget deh dapet kesempatan kaya gitu, share keadaan di sana.
    semoga suatu saat bisa. hehe,

    btw mau pinjem novelnya doongg.. yayaya,,

    ReplyDelete
  3. akhirnya di-post juga hasil talknya..

    ckckck,, teganya mereka berbuat kyak gitu apalagi yg sm anak2, gak punya hati.., hiks.. hiks..

    berikan kekuatan n kesabaran pd mereka ya Alloh..

    btw, klo dia minta salamin, salam bwt lw sndiri aja pit, hehee piiis.. ^_^ V

    ReplyDelete
  4. @eka: tau ga ka... masa kata si Ali sebenernya mereka ga butuh uang loh. bahkan mereka sama sekali ga peduli ma uang, apa yang mereka pedulikan itu hak mereka terhadap tanah suci mereka yang diambil sama Israel. mereka ingin bebas dari kependudukan Israel. yang mereka butuhkan dan harapan hanya doa dari semua umat muslim disini.
    ah.... gimana ya? sulit memang. bis kalo cuma doa rasanya kurang gimana gituh.. tapi disisi lain ternyata memang bukan uang yg mereka butuhkan.
    yang paling utama jangan berhenti berdoa untuk orang-orang Palestine, ya sesimple itu tapi sungguh sangat berarti untuk mereka.

    @vby: ya cari aja lagi... internet membuat semuanya mungkin.
    minjem novelnya? sejam 2000 deh ma temen ;P

    @ade: salam kok buat sendiri... hha :D, salamnya buat ade aja lah.
    o ya, tadi sempet ngobrol sama adik perempuannya ali yg seumuran ma kita. hhe. untungnya dia ga nitip salam buat laki-laki indonesia...

    ReplyDelete
  5. yuk qt berikan dukungan doa buat saudara2 qt di palestina! :)

    ReplyDelete
  6. wah senangnya bisa berbagi kisah dengan saudara2 di luar sana...

    yang mereka butuhkan dan harapan hanya doa dari semua umat muslim disini

    Let's Pray for freedom of Palestine

    ReplyDelete
  7. great jobs....!
    Tulisanmu bagus. Sederhana dalam kata tapi berat dalam makna. Mantabs....

    Terimakasih dah mau cerita di blog ^0^

    ReplyDelete
  8. @zana: lah ayo...
    @k'faruk: iya senang sekali, saya baru menyadari bahwa persaudaraan muslim bukan sekedar indah tapi sangat indah
    @k'agung: makasih kak. ini semua juga berkat inspirasi tulisan2 bagus di blog kakak. hehe.

    ReplyDelete
  9. beruntung bisa sharing sama mereka.. :)

    let's pray for them..

    ReplyDelete
  10. assalamu'alaikum

    tulisan bagus,,
    bisa share YM beliau?
    syukrin :)
    ana tunggu yah

    ReplyDelete

komennya donk, oom-tante?